Pengaruh Budaya China di Indonesia

Hubungan bangsa China dan Indonesia dapat diruntut hingga abad ke -2 masehi. Pada tahun 300 masehi Indonesia telah mengadakan hubungan perdagangan dengan India, juga mengadakan hubungan dagang dengan China. Terbukti dengan adanya perjalanan 2 pendeta Buddha, Fa Hsien dan Gunavarman. Indonesia yang menitik beratkan barang dagangnya pada rempah dan hasil bumi dapat mengadakan hubungan dagang dengan China yang mengutamkan kertas dan sutera.

Pada tahun 400 masehi perkembangan hindu dan Buddha semakin mempererat hubungan antara kedua wilayah. Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad 7 masehi, saat itu Sriwijaya mencakup sebagian dari Jawa Barat dan Semenanjung Malaya, dan merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terkuat di Asia. Kedatangan I Tsing, seorang pendeta Buddha dari China, pada tahun 671 M untuk mempelajari bahasa sansekerta dan melayu di Sriwijaya semakin mempererat hubungan ke dua kerajaan. China pada saat itu merupakan masa Dinasti Tang.

Masuknya bangsa China ke Indonesia dengan membawa budaya mereka membawa pengaruh-pengaruh pada budaya Indonesia. Akulturasi ini dapat dilihat dari beberapa segi, yang pertama adalah segi positif dimana keberadaan budaya China di Indonesia memperkaya budaya Indonesia, sementara dari segi negatif bahwa keberadaan budaya China menghilangkan budaya asli Indonesia. Saya sendiri lebih setuju dengan segi positif akulturasi budaya China dan Indonesia.

Akulturasi budaya memperkaya budaya yang sebelumnya, Dalam seni batik, budaya China bnayak mempengaruhi pewarnaan batik pesisir dan juga motif-motif yang digunakan. Batik yang biasa berwarna coklat tu atau muda dengan motif parang atau parang rusak jarang didapatkan didaerah pesisir seperti Cirebon, dan Pekalongan. Didaerah tersebut bati yang biasa ditemukan adalah batik dengan warnah cerah seperti merah atau pink, hijau, dan dengan motif burung hong, bahkan ada beberapa batik yang menggunakan motif ‘double happines’ atau shuangxi menunjukkan betapa kentalnya budaya China yang masuk ke daerah tersebut.

Satu contoh lain adalah budaya betawi. Bisa dilihat dari kelompok musik betawi Gambang Kromong, banyak instrumen musik yang digunakan adalah instrumen khas China seperti er hu. Dalam pakaian perkawinan mempelai wanita pun lebih terlihat jelas pengruh budaya China didalam budaya betawi.

Dalam bahasa kita mengenal juga bahasa melayu tionghoa. Yaitu bahasa melayu yang digunakan oleh Tionghoa peranakan dalam berkomunikasi dengan penduduk sekitar. Perkembangan bahasa Melayu Tionghoa juga mendorong berkembangnya budaya Indonesia secara keseluruhan. Karena banyak buku teks dari China dan belanda diterjemahkan dalam bahasa ini dan membuat penduduk asli dapat membacanya. Juga dengan perkembangan bahasa melayu Tionghoa memacu penulis-penulis Tionghoa peranakan untuk menulis mengani keadaan sekitarnya.

Jadi bisa disimpukan bahwa kedatangan dan keberadaan bangsa Tionghoa di Indonesia membawa banyak pengaruh kedalam budaya Indonesia. Pengaruh ini mempunyai dua efek kedalam budaya Indonesia, namun selama bangsa Indoenesia sendiri bisa menyaring yang baik dengan yang buruk maka kita bisa mendapatkan hal-hal positif dari akulturasi budaya China dan budaya Indonesia.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: